Cerita Nusantara
Hormat orang tua, cinta tanah air
Cerita rakyat dan kisah nyata para pahlawan tentang menghormati orang tua, guru, dan bangsa sendiri. 22 cerita.
3 cerita di seri ini gratis dicoba · buka semua 485 cerita dengan Paket Keluarga Rp 39.000 per bulanLihat paket →
0–3 tahun
Merah Putih Benderaku
Mengenal bendera Indonesia: merah dan putih, naik ke tiang, lalu memberi hormat. Satu kalimat per halaman untuk si kecil.
Halo, Hewan Nusantara!
Komodo, orangutan, burung cendrawasih, harimau, dan badak. Menyapa hewan-hewan istimewa dari seluruh Indonesia.
Aku Anak Indonesia
Butet, Asep, Ni Luh, Ina, dan Yakob datang dari daerah yang berbeda. Mereka berbeda-beda, tetapi tetap satu: Indonesia!
4–6 tahun
Biola Pak Supratman
Lagu Indonesia Raya pertama kali diperdengarkan lewat sebuah biola, pada hari para pemuda berjanji: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa.
Kisah nyata, Kongres Pemuda 1928
Keong Mas
Seorang nenek miskin merawat keong berwarna emas. Ternyata keong itu adalah seorang putri, dan sang putri tidak melupakan kebaikan nenek.
Cerita rakyat Jawa Timur
Lutung Kasarung
Purbasari yang baik hati diusir ke hutan oleh kakaknya yang iri. Di sana ia bersahabat dengan seekor lutung yang ternyata bukan lutung biasa.
Cerita rakyat Jawa Barat
Asal Mula Rawa Pening
Seorang anak yang lusuh diejek warga desa. Hanya Nyai Latung yang menolongnya, dan kebaikannya tidak sia-sia.
Cerita rakyat Jawa Tengah
Bawang Merah Bawang Putih
Bawang Putih yang rajin memilih labu yang kecil, sedangkan Bawang Merah memilih yang besar. Isinya ternyata sangat berbeda.
Cerita rakyat Riau
Danau Toba dan Janji yang Dilanggar
Seorang nelayan bernama Toba berjanji menjaga sebuah rahasia. Ketika janji itu dilanggar, terjadilah sebuah danau yang besar.
Cerita rakyat Sumatera Utara
Timun Mas
Seorang ibu yang sangat menyayangi putrinya, dan seorang anak yang selamat karena mendengarkan pesan ibunya.
Cerita rakyat Jawa Tengah
Batu Menangis
Seorang gadis malu berjalan bersama ibunya yang tua dan sederhana. Cerita lama dari Kalimantan Barat tentang menyayangi ibu.
Cerita rakyat Kalimantan Barat
7–9 tahun
Malin Kundang
Malin merantau dan menjadi kaya, tetapi ia malu mengakui ibunya sendiri. Cerita lama dari Pantai Air Manis tentang menghormati ibu.
Cerita rakyat Sumatera Barat
Kartini dan Surat-suratnya
Kartini harus berhenti sekolah ketika berumur dua belas tahun. Ia tetap menghormati orang tuanya, dan terus belajar lewat buku dan surat.
Kisah nyata, Jepara 1879–1904
Dewi Sartika dan Sekolah Perempuan
Sejak kecil Dewi Sartika suka bermain sekolah-sekolahan. Ketika dewasa, ia membuka sekolah untuk anak-anak perempuan di Bandung.
Kisah nyata, Bandung 1884–1947
Ki Hajar Dewantara dan Sekolah untuk Semua
Dulu tidak semua anak Indonesia boleh bersekolah. Seorang pemuda dari Yogyakarta memperjuangkan sekolah untuk semua anak bangsa.
Kisah nyata, Bapak Pendidikan Nasional
Bendera Jahitan Ibu Fatmawati
Bendera Merah Putih pertama yang berkibar saat Proklamasi dijahit dengan sabar oleh Ibu Fatmawati. Inilah kisah Bendera Pusaka.
Kisah nyata, Jakarta 1944–1945
Jenderal Sudirman, Bergerilya di Atas Tandu
Anak santun dari Purbalingga ini menjadi guru, lalu Panglima Besar termuda. Walaupun sakit parah, ia tetap memimpin perjuangan dari atas tandu.
Kisah nyata, 1916–1950
Cut Nyak Dhien yang Pantang Menyerah
Pahlawan perempuan dari Aceh ini terus memimpin perjuangan melawan penjajah, bahkan ketika ia sudah tua dan matanya mulai rabun.
Kisah nyata, Aceh 1848–1908
Kapitan Pattimura
Rakyat Maluku dan para tetua adat memilih Thomas Matulessy untuk memimpin mereka. Bersama-sama mereka berani melawan ketidakadilan.
Kisah nyata, Maluku 1783–1817
Martha Christina Tiahahu, Berjuang Bersama Ayahnya
Gadis tujuh belas tahun dari Nusa Laut ini selalu mendampingi ayahnya, dan ikut berjuang bersama Kapitan Pattimura melawan penjajah.
Kisah nyata, Maluku 1800–1818
Sisingamangaraja XII
Raja dari Tanah Batak ini meneruskan tugas ayahnya menjaga rakyat, dan hampir tiga puluh tahun memimpin perlawanan terhadap penjajah.
Kisah nyata, Tapanuli 1845–1907
Frans Kaisiepo, Pahlawan dari Papua
Anak dari Pulau Biak ini belajar dari gurunya tentang Indonesia yang satu, lalu memperkenalkan nama “Irian” untuk tanah kelahirannya.
Kisah nyata, Papua 1921–1979